Kasus Pembunuhan Haringga Sirla, Korban Kebencian yang Mengakar?

0
73

Jakarta – Pertandingan Persib Bandung dengan Persija Jakarta yang berlangsung Minggu 23 September 2018 menjadi ajang penting bagi Haringga Sirla. Anggota Jakmania asal Cengkareng, Jakarta Barat, itu tak ingin ketinggalan menyaksikan secara langsung tim kesayangannya berlaga di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat.

Padahal, pertandingan kedua klub sepakbola itu dinilai angker oleh para suporter sepakbola Tanah Air. Alasannya, laga itu acap menimbulkan korban jiwa, baik dari suporter Persija Jakarta, Jakmania maupun suporter Persib Bandung, Bobotoh.

Namun itu tidak menyurutkan niat Harlingga untuk tetap berangkat. Tanpa diselimuti rasa takut, dia meluncur ke Kota Kembang dengan menggunakan kereta api. Haringga pun tak pamit dengan keluarganya. .

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, ia pun tiba di Stasiun Bandung pukul 13.00 WIB. Di saat bersamaan, kawasan Stadion GBLA telah ramai oleh aksi Bobotoh yang men-sweepingKartu Tanda Penduduk (KTP).

Namun nahas. Langkah Haringga terhenti setelah menjadi sasaran razia. Identitasnya sebagai warga Jakarta diketahui dari kartu anggota Jakmania yang dibawa. Dia pun diteriaki sebagai anggota pendukung klub Macan Kemayoran.

Mendapat teriakan itu, Haringga sekuat tenaga menyelamatkan diri dari kejaran bobotoh. Dia menjerit meminta tolong. Tubuh gempalnya dipaksa berlari sekencang mungkin agar terhindar dari maut.

 

Namun jeritan Haringga tak digubris. Dia pun berlindung di balik pedagang bakso. Namun sang pedagang itu juga tak kuasa menolong Haringga. Massa yang sudah beringas tak mampu dibendung lagi. Mereka menganiaya Haringga hingga tewas.

Kematian Haringga menambah panjang daftar kelam suporter Tanah Air. Pada musim lalu di tempat yang sama, Ricko Andrean juga menjadi korban salah keroyok usai duel kompetisi Liga 1 2017 antara Persib Bandung Vs Persija Jakarta, Sabtu 22 Juli 2017.

Data Save Our Soccer menyebut, Haringga menjadi korban tewas ke-7 dalam sejarah pertandingan antara Persib dan Persija. Bahkan selama 23 tahun, tercatat ada 56 fans sepak bola Indonesia tewas secara mengenaskan.

Menurut Peneliti Hukum Olahraga Eko Noer Kristiyanto, aksi keji itu terus terulang karena tidak adanya solusi yang konkret. Jalan keluar yang ditawarkan hanya mempertemukan para pentolan klub yang kemudian diminta bersalaman. Padahal di akar rumput ini sebetulnya ada dendam.

“Tidak menyentuh hal substantif. Intinya kan ada kebencian yang mengakar. Ini khusus buat Jakmania dan Bobotoh saja ya, ada kebencian yang mengakar dan enggak ada upaya serius untuk memadamkannya,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (28/9/2018).

Sebagai solusinya, lanjut Eko, perlu ada regulasi khusus yang dibentuk pemerintah dan federasi. Termasuk aturan main bersifat teknis. “Regulasi khusus ini dilaksanakan bukan cuma otoritas sepakbola tapi juga komunitas suporter,” ujar Eko.

 

Dan untuk jangka pendeknya, dia mengusulkan agar setiap pertandingan Persib melawan Persija, tidak ada suporter dari kedua pihak. Meski itu akan menggerus pendapatan yang dihasilkan dari laga tersebut.

“Pasti ada kerugian dari tiket, tapi itu tidak ada artinya bagi keselamatan nyawa manusia,” kata Eko.

Dia menegaskan, aksi anarkistis bobotoh itu sebagai tindakan kriminal murni. Polisi diminta menegakkan aturan hukum terhadap para pelaku sadis itu yang selanjutnya dapat menyasar pihak terkait.

“Tegakkan saja hukum pidananya, udah. Hukum negara ditegakkan oleh polisi ntar kita bicara otoritas federasi terkait sanksi buat kru, maupun suporter dan lainnya,” ujar dia.

Facebook Comments
game poker offline

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here